Categories
Uncategorized

Agritechnica Asia 2017 Perdana : Transformasi Pertanian Asia

Edisi perdana Agritechnica Asia 2017 yang digelar bersamaan de ngan Horti Asia 2017 ini berhasil memikat 8.168 orang pengunjung dari 76 negara. Bertempat di Bangkok Inter national Trade & Exhibiton Center (BITEC), di pameran alat dan mesin pertanian ini terlihat antusiasme pelaku usaha bidang pertanian untuk mencari produk baru, mencari distributor, mempelajari pasar, maupun memperkenal kan atau mengukuhkan eksistensinya di pasar Asia.

Peserta Pameran dan Pengunjung yang Berkualitas

Nino Gruettke, Managing Director VNU Exhibitions Asia Pacific menga ta kan, pameran perdana di Asia yang te lah sukses di Jerman itu mendapat res pon sangat baik dari para peserta dan pengunjung pameran. “Peserta pameran senang karena 40% pengunjung berasal dari luar Thailand, dan pe ngun jung pun kagum dengan teknologi-tek nologi canggih yang dihadirkan,” terang pria yang berpengalam an 10 tahun me ngelola pameran itu ketika sa at diwa wan carai di Bangkok Interna tional Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangkok (17/3). Sebanyak 89 peserta pameran yang berpartisipasi berasal dari 20 negara. Teknologi mesin pertanian tersebut terbagi dalam kelompok produksi silase, persiapan lahan, pengeboran dan penggergajian, pemupukan dan perlindungan tanaman, irigasi, pemanenan, energi, transportasi, serta pemrosesan dan penyimpanan. Sedangkan para pengunjung pameran terdiri dari mereka yang memiliki posisi strategis, seperti pemilik farm, petani atau peternak, investor, distributor, agen/perantara, pengambil kepu tusan, dan eksekutif senior perusahaan ternama dari berbagai negara. Country Manager Röhren und Pumpenwerk BAUER GmbH, perusahaan di bidang irigasi asal Austria, Mona Taruna mengakui, pengunjung yang menyambangi stannya merupakan key person potensial. “Memang terlihat sedikit pengunjungnya, tapi yang datang justru me reka yang menentukan keputusan. Jadi lebih efektif dan efisien,” komentarnya.

Dalam area pameran seluas 2.461 m2 itu, hadir sejumlah perusahaan yang memboyong beberapa produknya untuk bertengger di tengah kerumunan, seperti milik Class (Jerman), Lovol (Tiong kok), Fliegl (Jerman), Pottinger (Austria), Agco (Amerika), dan MaschioGaspardo (Italia). Beberapa mesin besar yang dihadirkan mencuri perhatian para pengunjung. Selain peserta pameran yang telah memiliki nama di pasar Asia, sejumlah perusahaan yang belum santer terdengar pun ingin memperkenalkan dan menunjukkan eksistensinya. Sebut saja Howard Alatpertanian Sdn Bhd asal Malaysia. “Kami ingin memperkenal kan nama perusahaan dan ingin tahu juga pengunjung yang datang seperti apa. Harapannya, bisa bertemu dan menjalin hubungan baik dengan mereka yang datang me nyambangi kita di sini,” terang Kristian Work, Regional Service Manager perusahaan yang sudah memiliki pasar di Indonesia itu. Dari sisi lain, Ludovic Knab, Export Sales Engineer Monosem yang datang ke Agritechnica Asia sebagai pengunjung, mengungkapkan harapannya untuk menemukan distributor. “Saya ingin menemukan distributor dan juga mengetahui mesin-mesin yang dipa mer kan. Apakah sama dengan yang kami produksi? Saya melihat-lihat harganya juga,” terang pria asal Perancis ini. Namun ia mengakui belum menemukan distibutor yang cocok. Dan juga, menurutnya, Thailand merupakan pasar yang agak rumit karena harga produksi lokalnya lebih murah ketimbang produk miliknya.

Fokus Padi

Selain pameran, pi hak penyelenggara juga mengadakan se minar padi pada 16 Maret 2017. Padi atau beras terbilang peringkat kedua dari 10 produksi terbesar di Asia. Lebih tepatnya, Asia memproduksi le bih dari 800 juta ton pa di per tahun dan ber tengger di peringkat kedua setelah produksi tebu. Seminar ini menyoroti peningkatan kuali tas dan kuantitas produksi padi di Asia melalui mekanisasi. Selain seminar, sesi interaktif yang dikemas apik oleh DLG ini juga menghadirkan diskusi pa nel tentang mekanisasi pertanian ber kelanjutan. Sejumlah organisasi yang khusus melakukan penelitian tentang padi seperti International Rice Research Institute (IRRI) dan Better Rice Initiative Asia (BRIA) tampil sebagai pembicara. Salah satu peserta pameran, Sigur Group Agricultural and Technology Ltd. dari Giangzhou, Tiongkok, memperkenalkan produknya di Agritechnica. Mikhail Shangin, Regional Director Sigur mendemokan mesin pemisah biji yang hemat energi dan menjaga bentuk biji tetap utuh. “Melalui proses pe ne litian yang panjang, kami telah me matenkan metode berdasarkan prinsip pneumatic automation dan fluidics,” jelasnya. Dengan teknologi ini, mesin da pat menyeleksi biji-bijian berdasar kan bobotnya.

Bukukan Pendapatan Besar

Penyelenggaraan pameran ini terbilang sukses menambah pemasukan Thailand sebesar lebih dari 10 miliar Baht dalam waktu tiga hari. Thankit Anekwit, Wakil Sekretaris Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand me nya takan akan terus mendukung pe ngem bangan potensi lahan pertanian skala besar di Negeri Gajah Putih tersebut. “Saya yakin Agritechnica 2017 dan Horti Asia 2017 bisa mencapai tujuan untuk menjadi pusat produksi pertanian yang memenuhi standar global,” ungkapnya. Untuk ke depannya, Nino mengungkap, Agritechnica Asia 2018 akan diselenggarakan di Bangkok, Thailand dari 22-24 Agustus 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *