Categories
Uncategorized

Mencari Solusi Bila AGP Diganti

Penggunaan obat-obatan dalam peternakan hampir tidak bisa dihindarkan, salah satunya antibiotik. Selain untuk pengobatan penyakit, antibiotik juga berperan sebagai growth promoter (pemacu pertumbuhan) pada unggas. Namun, penggunaan antibiotik se cara terus-menerus dikhawatirkan menimbulkan resistensi terhadap mikroflora dalam tubuh unggas.

Perlu Pengawasan

Arnold P. Sinurat mengungkap, peternak menggunakan antibiotic growth promoters (AGP) karena dinilai bermanfaat dan menguntungkan. Antibiotik ini ditambahkan dalam pakan sebagai imbuhan. Peneliti Balai Penelitian Ternak (BPT), Kementerian Pertanian, itu menilai, imbuhan pakan dimanfaatkan untuk menaikkan produktivitas, efisiensi pakan, dan ujungujungnya untuk menekan biaya produksi. Imbuhan pakan yang baik, tambahnya, harus efektif, efisien, serta aman buat ternak dan konsumen sekaligus lingkungan. Arif Karyadi Uswandi membeberkan, yang salah dalam penggunaan AGP selama ini adalah tidak adanya pengawasan. Tanpa pengawasan, pemberian AGP ber lebih akan menyebabkan deposit tidak ter kontrol di dalam tubuh unggas sehingga penggunaan antibiotik perlu peng awasan. S

elain sebagai obat pelindung, AGP digunakan peternak untuk mengejar bobot lebih tinggi demi meraup margin yang lebih besar. Kejadian ini, menurut Arif, hampir sama seperti petani yang salah pengertian dalam menggunakan pupuk. “Ada petani yang merasa pupuk itu mampu meningkatkan produksi. Jadi, dia mem beri pupuk berlebihan,” jelas Wakil Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) itu. Dosen Agribisnis IPB ini menjabarkan, sebetulnya antibiotik pada unggas masih dibutuhkan. Sebab, ayam petelur jauh lebih rentan daripada broiler. Ia mencontohkan, ketika ayam mengeluarkan telur, “Di bagian dubur ayam suka jebol (seperti wasir pada manusia). Jika tidak menggunakan antibiotik, itu bisa parah atau bah kan infeksi dan bisa menular ke ayam lainnya.”

Berlaku Tahun Depan

Pada kesempatan lain Ketua Umum Aso sisasi Obat Hewan Indonesia (Asohi), Irawati Fari mengatakan, manfaat AGP memang sangat besar. Mayoritas para pengguna adalah pabrik pakan dan peternak self mixer. Pembatasan AGP sebagai imbuhan pakan sudah diketahui sejak 2015. Ira menga takan, pihaknya diberi waktu sampai akhir 2017 terkait penjualan dan distribusi AGP karena pada Januari 2018 produk pengganti harus sudah ada. “Kami dari produsen obat hewan sudah harus menyiapkan kalau AGP dilarang. Kami sudah mulai mendaftarkan produk probiotik, prebiotik, serta produk-produk her bal untuk mengganti AGP.

Memang mayoritas masih impor,” tuturnya. Ni Made Ria Isriyanti, Kasubdit Pengawasan Obat Hewan, Direktorat Kese hatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengingatkan, dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 Pasal 22 ayat 4c tertulis adanya pelarangan penambahan hormon tertentu atau antibiotik imbuhan pakan. Saat ini, peraturan Menteri Pertanian tentang Pelarangan penggunaan AGP pun sedang digodok. Dalam aturan tersebut, Ria menyebut adanya pelarangan antibiotik sebagai imbuhan pakan. Tetapi ketentuan itu masih memperbolehkan penggunaan antibiotik untuk keperluan khusus, seperti terapi selama 7 hari pada kasus penyebaran penyakit yang sangat masif (kejadian luar biasa) dan dilakukan sesuai petunjuk atau pengawasan obat hewan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *