Menjamin Ketersediaan dengan In-Store Drying

Menjamin Ketersediaan dengan In-Store Drying

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga bawang merah pada 1984- 2014 cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 14,83% per tahun. “Harga bawang sering menimbulkan keresahan karena selalu fluktuatif dan sangat mempengaruhi angka inflasi,” ungkap Kepala Badan Litbang Pertanian, Ke mentan, Muhammad Sya kir, pada acara rilis produk inovasi pascapanen di Kantor Balai Besar Litbang Pascapanen Per ta nian, Bogor, Jumat (30/12). Karena itu, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pas ca panen Pertanian (BBPaspa) mengembangkan teknologi pascapanen bawang merah. Tujuannya untuk men jaga kualitas hasil produksi dan menjamin ketersediaan pasokan serta stabilisasi harga.

In-Store Drying

Kebanyakan petani menyimpan bawang merah dengan cara menggantungnya dalam bentuk ikatan-ikatan pada para-para di atas perapian dapur. Namun, dengan cara itu jumlah bawang merah yang dapat disimpan cukup terbatas dan kurang efektif. Bila jumlah bawangnya banyak, dibutuhkan ruang penyimpanan yang lebih luas dengan kondisi bersih dan tidak lembap serta berventilasi cukup agar sirkulasi udara di dalam ruangan baik. Syakir menjelaskan, melalui teknologi instore drying, ketersediaan pasokan bawang merah bisa terjamin. In-Store Drying merupakan gudang yang dapat mengeringkan sekaligus menyimpan bawang me rah segera setelah panen.

Teknologi pascapanen ini berupa bangunan dengan sirkulasi udara yang baik dilengkapi pema nas untuk membantu proses pengeringan. “Bangunan ini dilengkapi rak-rak penyimpanan serta sistem aerasi udara bebas (ball-window), tungku pemanas, blower pengisap dan ventilasi udara yang berfungsi sebagai kontrol suhu dan kelembapan,” ujar alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar itu. Teknologi tersebut akan dimanfaatkan di sentra-sentra bawang merah di Indonesia. “Sejauh ini sudah dikembangkan di Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Jawa Barat, serta daerah sentra bawang lainnya,” papar doktor lulusan IPB ini.

Banyak Keunggulan

Proses pengeringan bawang merah dengan in-store drying menawarkan keunggulan dari sisi waktu. Bila cara konvensional butuh waktu 6 hari, dengan teknologi ini lebih singkat, 3-4 hari. Meskipun sudah kering, bawang masih rawan rusak akibat busuk, susut bobot, dan mengalami pertumbuhan. Karena itu, pengontrolan terhadap suhu dan kelembapan di sekitar bawang harus tetap dilakukan. Keunggulan lain, menurut Syakir, adalah materialnya murah, kuat, dan tahan lama disertai dengan alat kontrol yang baik.

Biaya operasionalnya juga murah. “Investasi yang dibutuhkan untuk membangun gudang penyimpanan ini sekitar Rp120 juta. Satu bangunan mampu menyimpan 15-20 ton bawang merah,” tambahnya. Berdasarkan hasil pengamatan, bawang yang disimpan dan dikeringkan dalam instore drying selama delapan minggu, tingkat kerusakan hanya 11%. Sementara dengan metode konvensional bisa mencapai 30%. Syakir menyebut, secara umum pada kondisi terkontrol, bawang merah aman disimpan selama satu tahun dalam in-store drying. “Daya simpan yang awalnya hanya 4 minggu, bisa menjadi 3 bulan,” simpul Syakir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *